Use Case Diagram (Ringkasan-Dasar)

Secara singkat use case diagram adalah diagram yang dibuat untuk menggambarkan interaksi antara pengguna dengan kasus sesuai dengan scenario yang telah ditetapkan. Di sisi lain, dalam pembuatan use case lebih ditekankan kepada “apa” yang dilakukan oleh sistem, bukan “bagaimana” system bekerja. Juga, pada umumnya use case dibuat secara horizontal. Berikut beberapa elemen yang ada pada use case:

  1. Use case
  2. Actor
  3. Relationship

Selain itu ada beberapa istilah yang hamper selalu ada dalam setiap use case. Yang pertama ada include yaitu hal yang pasti terjadi dalam use case. Lalu ada yang disebut extend yaitu hal yang tidak pasti terjadi namun mungkin akan terjadi bila suatu syarat atau requirement telah terpenuhi.

Ada beberapa hal yang harus diingat dalam membuat use case. Antar actor tidak boleh ada komunikasi secara langsung. Dengan kata lain, harus ada sebuah proses yang terjadi antar actor. Dalam sebuah use case, tidak jarang ditemui lebih dari satu actor. Namun, actor utama umumnya diletakkan di sebelah kiri atas.

Selain poin-point yang telah disebutkan di atas, masih banyak hal tentang use case yang belum dibahas. Artikel ini akan dilanjutkan di post-an berikutnya. Sampai jumpa!

My First Project

Saat ini saya tengah mengikuti progam kelas pendek atau biasa disebut Summer Program yang lamanya dua bulan. Ada dua mata kuliah yang sama ambil di semester ini. Yang pertama adalah Object-Oriented Modeling and Design dan Mathematical Foundation of IE.  Kedua mata kuliah ini sangatlah menarik untuk dipelajari karena keduanya menyuguhkan pengetahuan-pengetahuan yang baru untuk saya.

Pada mata kuliah Object-Oriented Modeling and Design saya mendapat tugas untuk membuat perencanaan pembuatan sebuah software yang bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar saya. Tugas ini akan dikumpulkan saat ujian akhir. Namun, waktu pengerjaannya telah dimulai sejak sekarang. Untuk anggota tim, masing-masing tim beranggotakan dua orang. Saya bersama rekan saya Angeline akan berusaha memberikan yang terbaik untuk projek ini.

Kemarin kami telah menerima materi mengenai Requirement yang ternyata terbagi menjadi dua jenis yaitu functional atau semua yang berkaitan dengan hal-hal teknis seperti fungsi yang akan ditampilkan pada software. Yang kedua adalah non-functional yang berarti semua hal yang akan berkaitan dengan software namun tidak termasuk kedalam hal-hal teknis. Contohnya adalah lama waktu pembuatan software. Requirement bisa didapatkan dari user yang akan menggunakan software nantinya. Lalu semua requirement tersebut akan diterjemahkan kedalam bahasa matematika supaya lebih mudah diterjemahkan kedalam bahasa komputer.

Ternyata, ada beberapa proses dalam tahap requirement ini. Yaitu:

  1. Feasibility study

Tahap ini adalah tahap di mana kita akan menentukan hal-hal dasar yang berkaitan dalam pembuatan software seperti jenis teknologi yang akan digunakan dan anggaran yang telah ditentukan.

  • Requirement analysis

Ini adalah tahap di mana kita akan menginterview para stakeholder atau user yang akan menggunakan software untuk mendapatkan informasi tentang apa yang mereka butuhkan dalam software tersebut.

  • Requirement definition

Setelah mengadakan interview, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah mengetik ulang hasil interview tersebut dan mencetaknya menjadi sebuah dokumen yang akan menjadi acuan atau perjanjian tertulis bagi kedua belah pihak (user dan programmer) supaya tidak terjadi kesalahpahaman suatu hari nanti.

  • Requirement specification

Ini adalah tahap untuk lebih menyepesifikkan lagi requirement yang ada.

Selain itu, ada yang namanya requirement document. Ini adalah dokumen yang berisi tentang apa yang akan dilakukan oleh system. Elemen-elemen dokumen itu sendiri akan berisi:

  1. Introduction
  2. Latar belakang
  3. Permasalahan
  4. Rumusan masalah
  5. Batasan
  6. Tujuan
  7. Glossary

Berisi kata-kata sulit yang ada dalam dokumen

  • System model

Secara singkat, system model akan berisi diagram-diagram pembuatan software

  • Functional requirement definition

Berisi fungsi atau feature yang akan disediakan

  • Non-functional requirement definition

Berisi semua hal non-teknis yang berkaitan dengan system

  • System evolution

Ini adalah sebuah statement yang dibuat untuk mengantisipasi semua perubahan yang mungkin akan muncul ketika pembuatan software.

  • Requirement specification

Berisi requirement yang sudah dispesifikasikan

  • Appendices
  • Index

Sejauh ini, kami sedang berada pada tahap penyusunan daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada user mengenai requirement yang berkaitan dengan software yang akan kami buat. Semoga artikel ini membantu rekan-rekan dalam memahami sebagian kecil dari apa itu Object-Oriented Modeling and Design.

Note:

Konten ini saya tulis berdasarkan apa yang saya pahami dari penjelasan dosen. Tentunya ada banyak kekurangan dalam artikel ini karena yang sempurna hanyalah Yang Maha Esa. Kritik, saran, dan tanggapan rekan-rekan selalu saya nanti guna memperbaiki tulisan saya di artikel selanjutnya. Terima kasih sudah mampir.

About Me

Bismillahirrahmanirrahiim. Halo semua….Nama saya Fani Fafas Tafia. Biasa dipanggil Fani. Namun, kalau rekan-rekan mempunyai panggilan yang lain buat saya ya no problem, it’s Ok, santai saja. Saya berasal dari kota Jombang, Jawa Timur. Saya adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Saat ini saya sedang menimba ilmu di salah satu Universitas di Jakarta, yaitu Sampoerna University. Memang sekolah ini jauh dari tanah kelahiran saya, tetapi saya yakin waktu bersama dengan keluarga yang saya korbankan saat ini akan berbuah manis suatu saat nanti. Tentu saja bersama doa dari orang tua dan rekan-rekan serta usaha yang saya lakukan selama ini.

Artikel ini akan menjadi artikel pertama yang saya upload di laman ini. Jujur saja, saya tidak pernah berpikir akan membuat sebuah blog. Ini semua berawal dari seorang dosen salah satu mata kuliah saya, Bapak Indra, yang menyarankan saya dan teman-teman sekelas saya untuk membuat blog. Tentu saja ini adalah ide yang sangat bagus. Saya bisa menulis apa saja yang saya mau dan bisa saya kenang suatu hari nanti.

Berbicara mengenai konten, pengalaman hidup dan pelajaran yang saya dapat di keseharian saya mungkin akan menjadi salah satu topik yang akan saya angkat suatu hari nanti. Saya akan merasa sangat bahagia jika nanti tulisan-tulisan saya bisa menjadi motivasi untuk rekan sekalian. Saya harap blog yang saya buat ini akan bermanfaat bagi saya dan siapapun yang membaca. Aamiin. Jangan lupa bahagia semua.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.